Halim Inside™ Blog

sesuatu yang membuatku tersenyum
February 26, 2009

10 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes

Author: halim inside - Categories: tips - Tags: , ,

food 200x300 10 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes Dalam hidup ini berlaku hukum “tabungan”. Apa yang kita lakukan menjadi tabungan di masa mendatang. Apa yang kita tabung sedikit demi sedikit akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV hingga larut. Siapa nyana kalau itu bisa meningkatkan risiko diabetes?

1. Teh manis

Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.

Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan

Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.

Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil

Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.

Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.

Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.

Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.

Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres

Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok

Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.

Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi

Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.

Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam

Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.

Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum ”berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda

Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.

Pengganti: Jus dingin tanpa gula.*

SUMBER

February 22, 2009

Lebih Gemuk, Lebih Awet Muda

Author: halim inside - Categories: tips - Tags: , ,

wanita gemuk Lebih Gemuk, Lebih Awet MudaTEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah survei terhadap 186 pasang kembar identik memperlihatkan bahwa mereka yang lebih gemuk, berpola hidup sehat, dan tidak menggunakan obat antidepresi lebih awet muda.

Riset itu dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin Dr. Bahman Guyuron, ahli bedah plastik dari Case Western Reserve University di Cleveland, Amerika Serikat.

Mereka mengamati foto 186 pasang kembar identik yang diambil dalam Festival Orang Kembar di Ohio pada 2006 dan 2007.

Sebagai kembar identik, mereka semua memiliki DNA sama persis. Jadi, kalaupun penampilan berbeda, bisa dipastikan itu karena gaya hidup atau lingkungan tempat ia tinggal.

Tim riset Guyuron memberi pertanyaan kepada orang-orang kembar itu secara intensif, mulai dari berapa kali mereka menikah sampai apakah sering menggunakan krim tabir surya.

Kemudian, empat orang hakim akan bekerja terpisah, memperkirakan usia si kembar. Salah satu hasil yang mengejutkan, adalah soal berat badan. Bagi kembar yang usianya di bawah 40 tahun, semakin kurus tampak semakin muda. Tapi begitu di atas 40 tahun, apalagi kalau sudah 55 tahun, yang gemuk tampak lebih muda. “Jika Anda bertambah berat setelah 40 tahun, Anda akan tampak lebih muda,” kata Dr. Guyuron.

Guyuron menduga bahwa lemak pada orang gemuk, mengganti sel-sel kulit yang mati sehingga mereka tampak lebih muda. Meski begitu, Guyuron tidak menganjurkan orang untuk menggemukkan diri hanya agar tampak muda.

Selain soal kegemukan, yang sangat berpengaruh adalah rokok. Mudah diduga, mereka yang merokok tampak lebih tua dibanding yang tidak merokok. Mereka yang gemar minum alkohol juga lebih sepuh dibanding saudara kembarnya yang tidak pernah teler.

Pengaruh matahari juga terkait dengan kemudaan seseorang. Mereka yang rajin mengenakan krim tabir surya, wajahnya lebih muda daripada yang langsung terpapar matahari.

Dalam masalah sosial, kehidupan keluarga sangat berpengaruh. Kembar yang perkawinannya berakhir dengan perceraian tampak lebih tua daripada yang hubungan dengan suami berjalan bagus. Atau, kembar yang akhirnya bercerai tampak lebih tua daripada yang tidak menikah.

Yang terburuk, mereka yang menggunakan obat anti depresi, seperti Prozac, tampak lebih tua daripada yang tidak. Guyuron curiga ini karena obat antidepresi mengurangi ketegangan otot wajah.

Jadi, jika ingin awet muda, resepnya gampang: jangan terlalu takut gemuk, jangan merokok, jangan nenggak minuman keras, rawat perkawinan, hindari matahari, dan jangan minum obat antidepresi.

SUMBER

February 19, 2009

Kesepian Sama Buruknya dengan Merokok

Author: halim inside - Categories: tips - Tags: , ,

drug 198x300 Kesepian Sama Buruknya dengan MerokokISOLASI sosial atau kesepian memengaruhi tingkah laku manusia dan otak manusia bekerja. Bahkan kesepian juga merusak kesehatan, sama halnya dengan merokok.

Demikian hasil sebuah penelian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan The American Association for The Advancement Science.Health24.

Penelitian terhadap 23 mahasiswa ditujukan untuk mengukur tingkat kesepian mereka. Saat dipindahi dengan scan fMRI, mereka diperlihatkan gambar-gambar tidak menyenangkan, konflik pada manusia, dan juga hal-hal menyenangkan, seperti uang dan orang bahagia.

Para peneliti menemukan bahwa ventral striatum menjadi lebih aktif pada mereka tidak kesepian dan saat mereka diperlihatkan gambar-gambar orang yang berada pada situasi menyenangkan.

Ventral striatum, sebagai pembelajar kritis adalah bagian kunci pada otak yang aktif lewat rangsangan utama, seperti makanan, dan rangsangan sekunder, seperti uang. Penghargaan sosial dan perasaan cinta juga mengaktifkan bagian otak ini.

Sebaliknya, temporoparietal junction (saraf yang mengatur otak untuk membedakan diri sendiri dengan orang lain dan pemahaman situasi di sekitar kita) menjadi kurang aktif saat kita kesepian dan saat diperlihatkan gambar-gambar orang yang berada pada situasi tidak menyenangkan.

Kerja saraf pada otak ini turut memengaruhi kesehatan tubuh. Mereka yang kesepian tingkat kesehatannya cenderung menurun.

“Kesepian merusak kesehatan, sama halnya dengan merokok,” tegas John Cacioppo, salah satu peneliti dari Chicago University. Penelitian tersebut merupakan penelitian pertama yang menggunakan scan fMRI untuk mengkaji hubungan antara isolasi sosial (kesepian) dengan aktivitas di dalam otak. Hal tersebut seperti dikutip dari (tty)

SUMBER