“Death to Amerika! Death to Israel! We are right on nuclear energy!” Warga Iran menyambut arak-arakan sebuah mobil terbuka. Di situlah berdiri Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang mereka cintai.
Ahmadinejad sangat populer di kalangan penduduk miskin Iran. Setiap saat, warga miskin Iran dapat menulis surat langsung kepada Ahmadinejad saat kunjungan semacam itu. Ada ajudan di belakang Ahmadinejad yang siap menerima surat-surat tersebut. Mereka berharap tulisan tentang keadaan dan kesulitan mereka didengar Ahmadinejad.
Film Letters to the President karya sutradara Petr Lom ini merupakan film dokumenter, yang menjadi salah satu sajian dalam Jakarta Internasional Film Festival (Jiffest 2009). Petr Lom adalah satu-satunya orang asing yang mendapatkan izin mengikuti lawatan Ahmadinejad ke berbagai daerah di Iran. “Saya menyukai karya-karya tentang human right semacam ini. Dan, menurut saya, kehidupan Islam sangat menarik,” ujarnya.
Film berdurasi 74 menit ini bercerita tentang bagaimana kehidupan Iran, baik penduduk miskin, kaya, maupun berpendidikan berbicara tentang kehidupan mereka dan presidennya. Dokumenter yang memperlihatkan sisi lain Iran yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
Film memperlihatkan bagaimana pemerintah Iran sangat serius menanggapi surat-surat itu. Bahkan mereka memiliki kantor khusus untuk menerima surat. Juga mereka memiliki call center yang siaga setiap saat. Salah seorang petugas menjelaskan bahwa mereka menerima hampir 9 juta surat setiap tahun. Jika digabung dengan pesan elektronik atau telepon, ada sekitar 10 juta pesan per tahun yang mereka terima. “Ada sekitar 76 persen yang kami proses setiap tahunnya,” kata petugas itu.
Iran terkepung dalam embargo ekonomi dunia karena mengembangkan energi nuklir. Amerika Serikat dan negara-negara yang berada di pihaknya mengecam keras atas apa yang dilakukan Iran. Namun, Ahmadinejad seolah tak gentar menghadapi itu. Akibatnya, kemiskinan tak terhindarkan. Harga makanan yang mahal, pengangguran, dan tingginya biaya kesehatan adalah keluhan klasik penduduk.
Satu sekuel yang menarik adalah ketika diadakan temu langsung dengan Presiden. Dua orang ibu berbincang tentang apa yang akan dikeluhkan nanti saat bertemu dengan Presiden. Seorang ibu berkata bahwa ia akan meminta sumbangan uang untuk membeli 1 kilogram stroberi seharga US$ 4 untuk putrinya. Ia tak mampu membeli karena saking mahalnya. Sambil menangis, ia mengatakan bahwa putrinya telah meminta keinginannya itu selama dua minggu ini. Namun, acara itu batal. Ibu yang lainnya menimpali, harga daging malah setara dengan kasur. Betapa mahalnya.
Film ini juga memperlihatkan kelas menengah Teheran, yang tak berminat mengirim surat keluhan kepada Presiden. Mereka justru berharap agar pemimpin mereka saat ini mampu membebaskan negeri mereka dari embargo ekonomi yang mengerikan itu.
Judul : Letters to the President
Tahun produksi : 2009
Genre : Film dokumenter
Durasi : 74 menit
Sutradara : Petr Lom
Subtitle : Inggris




2 Comments until now
wah, sepertinya seru filmnya, dvdnya dijual gak ya??
[Reply]
Halim Reply:
December 11th, 2009 at 8:02 pm
@ bay : wah.. sy pun berharap tu film d jual.. bagus kyny..
[Reply]
Add your Comment!