kayon 289x300 Improvisasi KayonTiga musisi menjadi pusat perhatian penonton yang duduk di deretan kursi berbentuk arena. Master bas Pra Budi Dharma, pianis Indra Lesmana, dan drummer ternama Gilang Ramadhan. Penonton tak canggung dan intim. Ketiga musisi pun tampak sangat menikmati permainan.

Sabtu malam lalu, di Teater Salihara, trio Kayon tampil. Mereka membawakan banyak materi dari Tree of Life, album yang dirilis dua tahun lalu. Konser malam itu bertajuk sama dengan judul album bernapas jazz etnik tersebut.

Maka, penonton yang datang sudah bisa mengira-ngira pengalaman macam apa yang bakal mereka dapatkan: sajian instrumentasi jazz yang berangkat dari unsur budaya lokal Indonesia.

Dua ratusan kursi di ruangan teater tak mampu menampung penonton yang hadir. Sebagian lalu duduk lesehan mengelilingi area utama. Ada juga yang memilih berdiri bergerombol tak jauh dari pintu masuk.

Trio ini memulai pertunjukannya dengan Kayon. Indra pada piano, Pra Budi pada bas fretless dan tentu saja Gilang, yang memakai coverall putih, pada drum. Nomor ini dimulai dengan piano Indra, yang berdiri menjulurkan badan untuk memetik senar-senar piano. Komposisi Kayon tak meninggalkan nada pentatonis, dengan alur yang makin lama makin liar dan ramai.

Introduksi disusul dengan dua nomor lagi, East Coast of Java yang banyuwangian dan Panghareupan yang nyunda. Instrumen melodika, oleh Indra, dibuat mengeluarkan nada-nada seperti seruling sunda. Gilang mengisi banyak improvisasi menemani “seruling melodika”.

“Sudah lama kami nggak main,” kata Indra membuka percakapan dengan audiens. Trio ini terbentuk sejak 1986. Tapi Indra lupa nama awalnya. Gilang dan Pra Budi pun tak membantu mengingat, hanya mesem-mesem. Pada 1990-an, mereka dikenal dengan nama P.I.G., sengaja bermain dengan singkatan nama mereka.

“Mainnya nyolong-nyolong pas Krakatau nggak maen aja,” kata Indra. Pra Budi, salah satu pendiri Krakatau, lagi-lagi cuma senyum-senyum mendengar itu. Pra Budi masih di Krakatau hingga kini, sedangkan Indra dan Gilang angkat kaki pada akhir 1980-an.

Pertunjukan lalu berlanjut dengan nomor-nomor lain. Unsur etnis beragam daerah berloncatan menjadi inspirasi permainan ketiganya. Misalnya Little Jakarta yang betawian dengan suara piano yang “buntu” alias tanpa gaung; juga Mumang, yang berangkat dari empat nada yang berulang dimainkan oleh Indra dan Pra Budi, diiringi pukulan drum yang keras dan sesekali nge-rock.

Di tengah duka pascamusibah gempa, Kayon pun bersedih. Pra Budi mengajak penonton mengheningkan cipta. Indra dan Gilang mengapit Pra Budi. Lalu semua penonton berdiri dan menunduk. Lalu tak ada aba-aba usai. Ketiganya diam-diam kembali ke posisi masing-masing, menyusulkan First Dawn yang panjang dan sedih.

Nomor usai mengheningkan cipta itu dimulai dengan kekacauan dari gesekan, petikan, dan pukulan Indra pada senar piano. Chaos disusul oleh paduan nada minor. Bas seperti menyanyi. Tapi pada akhir komposisi itu kita menangkap pesan-pesan harapan. Kiranya itulah yang hendak disampaikan Kayon kepada para korban.

Untuk mencairkan kegalauan setelah mendengar nomor tersebut, Kayon beristirahat sejenak. Jeda diisi komunikasi dengan penonton. Indra memuji Salihara. “Rasanya senang sekali di Jakarta masih ada kehidupan yang…,” Indra terdiam karena penonton tertawa dan bertepuk tangan. Ia tak melengkapi kalimat itu, tapi berkata lagi, “Buat kita, setidaknya.”

Indra rupanya menyisipkan kegetiran para musisi, apalagi jazz, yang jarang ditanggap. Itu disampaikan sambil lalu seraya berkelakar. Untuk menjadi musisi miliuner, kata Indra, caranya adalah menjadi miliuner dulu, barulah menjadi musisi.

Indra menyampaikan joke itu karena piano yang ia pakai malam itu. Piano, yang ia “aduk-aduk” dengan berbagai teknik kontemporer, itu adalah pinjaman seorang pengusaha berkebangsaan Jepang. Harganya Rp 3 miliar. “Kalau lihat pianonya, mana mungkin punya musisi,” ujar Indra.

Di akhir pertunjukan, darah menetes di tuts piano mahal itu. Indra agaknya bersemangat memetik senar-senar piano sehingga jarinya terluka. Di akun Twitter-nya, Indra menyebut itu sebagai kecelakaan kecil. Jari-jari itu lalu sibuk dengan BlackBerry, membalas komentar-komentar konser lewat Facebook dan Twitter.

SUMBER

Tulisan Terkait