Di tengah menipisnya lapisan ozon secara global, langit Indonesia masih relatif baik untuk menangkal sengatan radiasi matahari. Lapisan ozon Indonesia, menurut peneliti ozon dan polusi udara Ninong Komala, masih tergolong normal untuk daerah ekuator.
Namun begitu, angka terendah ozon di Indonesia masih dibawah angka normal. “Karena itu masyarakat diminta tidak memakai produk yang masih merusak ozon,” katanya saat jumpa pers Hari Ozon sedunia yang diperingati tiap 16 September, Rabu (16/9), di Bandung.
Menurut peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional itu, produk yang masih mengandung bahan perusak ozon misalnya lemari es atau mesin pendingin, serta tabung pemadam api. Khususnya yang masih memakai bahan HFC dan Halon. “Kalau freon pada kulkas misalnya, kan sudah dilarang sesuai protokol Montreal 1987,” ujarnya.
Di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun terakhir dari 17 Agustus 2004-11 September 2009, nilai total ozon di berkisar 230-270 Dobson Unit (DU). Dobson Unit adalah kerapatan molekul ozon per sentimeter persegi. Di lapisan stratosfer yang berjarak 30-50 km dari permukaan bumi, ketebalan lapisan ozon hanya 0,3 cm.
Kondisi lapisan ozon di Tanah Air yang berbeda- beda di sejumlah wilayah karena pengaruh musim, lokasi, dan kejadian alam lain seperti kebakaran hutan dan letusan gunung api itu rencananya akan diteliti LAPAN DAN Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dari citra satelit, lapisan ozon yang cukup tipis berada di kawasan Indonesia timur.
Penelitian itu, kata dia, untuk mengetahui dampak atau hubungan tipisnya lapisan ozon dengan penyakit. Dari literatur, penyakit yang bisa timbul antara lain katarak, kanker kulit, dan menurunnya daya tahan tubuh. Bencana itu juga berdampak ke hewan dan tumbuhan, misalnya cepat mati.
Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan, trend menipisnya lapisan ozon secara global terjadi sejak 1970. Hingga 2000, penurunan itu rata-rata sekitar 4 persen tiap dekade. Pada era 1980-an, kerapatan partikel ozon sudah menipis jadi 300 DU, sedangkan pada 2000-an ini 285 DU.
Wilayah terparah tipisnya ozon, kata dia, terjadi di kutub selatan hingga muncul istilah lubang ozon. Di sana, radikal bebas banyak berhamburan ketika matahari bersinar di musim semi.
Pada peringatan Hari Ozon tahun ini, United Nations for Environment Program menetapkan tema membangun kesadaran masyarakat dalam perlindungan lapisan ozon. Penetapan 16 September sebagai Hari Ozon disesuaikan dengan ditanda tanganinya Protokol Montreal pada 1987. Protokol itu berisi penjabaran pelaksanaan konvensi perlindungan lapisan ozon. Indonesia ikut meratifikasinya pada 1992.





0 Comments until now
Add your Comment!